Trifanny's Blog

4 January 2010

Teleworker Mengubah Cara Kerja Sebuah Perusahaan

Filed under: Management — Maria Trifanny Fransiska @ 18:28

Teleworking

Saat ini dengan kondisi kota jakarta yang semakin macet disebabkan oleh jumlah kendaraan yang tidak sesuai dengan kapasitas jalan, adanya kegiatan demonstrasi dan hal lainnya menyebabkan bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari sebuah lokasi menuju lokasi lainnya. Bagi orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi tentu kegiatan bolak-balik antara kantor dengan tempat pertemuan klien merupakan sebuah hal yang sangat tidak produktif.  Untuk melakukan meeting selama 1 jam terkadang dibutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan dari kantor menuju ke tempat meeting dengan klien selama 2 jam.

Atas dasar itulah saat ini mulai banyak perusahaan yang mengubah cara kerja yang dimilikinya untuk meningkatkan produktifitas setiap karyawannya. Perusahaan-perusahaan tersebut mengijinkan karyawan untuk langsung menuju tempat meeting dengan klien tanpa harus ke kantor terlebih dahulu ataupun mengijinkan karyawan untuk bekerja di tempat publik seperti café ataupun restoran di antara waktu 2 meeting yang berbeda sehingga karyawan tidak perlu bolak balik ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan demikian konsep teleworker dapat meningkatkan produktivitas karyawan yang tentunya berdampak positif bagi perusahaan tersebut. Konsep kerja teleworker hanya membutuhkan  laptop, konektivitas internet serta telepon yang dapat dihubungi. Dengan adanya 3 komponen tersebut maka semua kegiatan pekerjaan dapat dilakukan dimana saja.

Untuk menjadi seorang teleworker, dibutuhkan beberapa karakter  yang harus dimiliki sehingga dapat bekerja dengan baik:

  1. Punya Rencana Dan Terorganisasi
    Rapi dan terorganisasi adalah karakter yang menduduki posisi teratas bagi seorang teleworker.
  2. Disiplin
    Disiplin, pada kenyataannya, susah dipraktekkan. Disiplin artinya melakukan hal yang harus kita kerjakan meskipun kita tidak menyukainya. Misalnya, kita harus menyelesaikan kompilasi berita-berita keuangan dari internet untuk seorang klien, padahal disaat itu ada acara televisi yang kita sukai.
  3. Profesional
    Profesional bukan sekadar tingkah laku, tapi cara kita berpikir. Kita harus benar-benar menaruh perhatian pada apa yang sedang kita kerjakan dengan klien. Contoh mudahnya, jangan mengunyah makan siang sementara kita sedang membaca prosal dari klien. Atau, jangan main solitaire saat sedang menerima telepon dari klien.
  4. Prioritas
    Gunakan berbagai perangkat penolong untuk menyusun prioritas dalam aktivitas kerja dan melakukan sesuai urutannya. Jika tidak, bisa-bisa kerja kita seharian tidak membuahkan hasil yang optimal, atau kita terpaksa bekerja hingga larut dan mengorbankan waktu untuk keluarga.
  5. Keinginan Kuat
    Sanggupkah kita menghadapi kenyataan bekerja di tempat umum? Misalnya, kerja kerap terganggu karena ada orang yang lalu lalang di sekitar café tempat kita bekerja ataukah ada hal-hal yang menarik perhatian kita.

Beberapa keuntungan dengan sistem kerja teleworker :

  • Biaya sewa kantor ditekan seminimal mungkin karena tidak perlu kantor yang besar, semua orang bekerja secara remote
  • Karyawan bisa bekerja semaunya (pada umumnya kerjanya dapat lebih dari 12 jam sehari, tanpa company perlu bayar overtime)
  • Koordinasi dengan rekan-rekan dari lokasi lain berjalan dg sangat mulus
  • Biaya travel dan hotel sangat ditekan, krn semua selesai dengan email dan telpon

Namun konsep teleworking saat ini masih sulit untuk diimplementasikan karena beberapa hal, yaitu :

  • Kepercayaan terhadap para teleworker masih rendah. Bagi perusahaan saat ini belum banyak yang mau menerapkan teleworking karena kepercayaannya masih kurang terhadap pekerjanya. Yang ditakutkan kalau karyawannya bekerja dari tempat publik adalah tidak disiplin dan banyak gangguan dari pihak luar, selain itu juga sulitnya pengawasan yang dilakukan terhadap pekerja teleworker.
  • Koneksi Internet. Hal ini juga masih disayangkan. Belum tersedianya koneksi internet yang cepat, murah dan stabil. Hal itu masih sulit disediakan oleh para service provider yang ada. Walaupun saat ini sudah marak koneksi yang murah seperti mobile dengan 3,5G dan kabel modem tapi koneksinya sendiri masih belum stabil. Di mana para pekerja teleworker pastinya membutuhkan koneksi yang cepat dan stabil untuk mengirim atau menerima tugas-tugas dari kantornya maupun melakukan meeting dengan para pekerja lainnya atau dengan klien dan itu tentunya membutuhkan bandwith yang besar.

Sebagai kesimpulan, menurut pengamatan saya, untuk menjalankan konsep teleworking dibutuhkan beberapa hal berikut ini :

  • Teleworker menuntut kedewasaan cara berpikir karyawan
  • Teleworker menuntut perusahaan punya policy yang jelas
  • Tolok ukur kinerja karyawan harus sangat jelas, sehingga meminimalkan karyawan yang korupsi waktu
  • Karyawan harus tetap dimotivasi untuk bekerja se-smart mungkin
Advertisements

5 Comments »

  1. Saya setuju dengan pendapat mengenai teleworker ini, tetapi bagaimana cara perusahaan dapat melakukan kontrol bagi para pekerja teleworkernya?

    Comment by Nikolas — 4 January 2010 @ 22:31 | Reply

  2. Menurut gue sih di Indonesia masih susah untuk dijalankan karena mental orang Indonesia yang jika bekerja tidak diawasi maka dia akan melakukannya seenak keinginan sendiri

    Comment by Flower^girl — 6 January 2010 @ 12:36 | Reply

  3. Thanks Nikolas dan Flower^girl atas komentarnya, berikut adalah tanggapan saya atas komentar yang diberikan. Menurut pendapat saya, perusahaan dapat melakukan kontrol bagi para teleworkernya dengan cara memberikan target-target yang harus dicapai dalam waktu tertentu ataupun melakukan evaluasi pekerjaan yang mereka lakukan dalam waktu tertentu sehingga dengan demikian akan dapat diketahui kualitas kerja mereka selama bekerja secara teleworking. Dengan demikian secara tidak langsung perusahaan tetap melakukan pengawasan atas kinerja mereka 🙂

    Comment by Maria Trifanny Fransiska — 6 January 2010 @ 21:35 | Reply

  4. ooo…gitu ya bu maria..diusulin donk ke atasannya. biar bisa kerja dari rumah getooo… :p

    Comment by Unknown — 8 January 2010 @ 22:41 | Reply

  5. Sebenarnya sudah banyak sekali koq teleworker di Indonesia. Di gereja saya di Jawa Tengah, ada seorang pegawai administrasinya yang selalu kelihatan sibuk di hari-hari tertentu, usut punya usut ternyata dia menjadi teleworker sebuah perusahaan riset di Australia. Tidak perlu capek-capek migrasi ke Aussie, cukup bekerja di kota anda atau negara anda sendiri. Juga teman kuliah saya ada yang menjadi programmer yang mengerjakan project2 untuk company di Aussie. Ada satu lagi teman, DO an fakultas ekonomi, tapi bekerja di bidang networking… saat ini menggarap banyak project networking secara remote. Kliennya dari Medan sampai Jayapura. Memang di negeri kita hal seperti itu belum biasa, karena banyak dari orang Indonesia masih belum dapat mempertahankan kualitas kerjanya dan kurang disiplin. Kualitas dan kedisiplinan merupakan kunci sukses teleworker… karena Trust atau Kepercayaan adalah kunci dari berbisnis atau bekerja secara online. Buatlah diri anda disiplin, berkualitas dan dapat dipercaya. ^^
    Nice article, Maria 🙂

    Comment by Cornelius Mellino — 10 January 2010 @ 13:45 | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: